BATU BERDARAH DI BUKIT DUNGUS DAO
Cerita ini diangkat dari kisah nyata yang dialami penulis pada masa “putih abu-abu”. Beberapa nama dan detail kecil disamarkan. Selebihnya, kejadian ini masih tersimpan kuat dalam ingatan hingga hari ini.
Matahari hampir tenggelam ketika kami menemukan gadis itu.
Awalnya kami mengira dia hanya kelelahan.
Tubuhnya terbaring di samping sebuah batu besar. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan kedua matanya terpejam rapat.
“Dek...!”
Aku berjongkok di sampingnya.
“Dek, bangun!”
Tidak ada jawaban.
Aku menepuk pipinya pelan.
Tetap tidak ada reaksi.
“Coba periksa napasnya.”
Salah seorang temanku segera berjongkok.
“Masih bernapas.”
Kami semua menghela napas lega.
Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.
Entah kenapa, sejak menemukan gadis itu, suasana di sekitar kami terasa berbeda.
Hutan yang sejak tadi ramai oleh suara burung mendadak sunyi.
Angin pun seolah berhenti.
Tidak ada suara.
Benar-benar tidak ada.
Kami saling berpandangan.
“Sin...” bisik Atam.
Aku menoleh.
“Apa?”
“Tempat ini... kok tiba-tiba sepi, ya?”
Aku tidak menjawab.
Aku sendiri merasakan hal yang sama.
Kami sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju lokasi perkemahan. Tetapi karena menemukan gadis tersebut, kami terpaksa menghentikan perjalanan.
Masalahnya, kami masih jauh dari perkemahan.
Sementara matahari terus bergerak turun.
“Gimana?” tanyaku.
“Harus dibawa ke kampung.”
Akhirnya kami sepakat.
Dengan peralatan seadanya, kami mengangkat gadis itu.
Namun baru beberapa langkah...
Aku merasa seperti sedang diperhatikan.
Aku berhenti.
“Kenapa berhenti, Sin?”
Aku menoleh ke belakang.
Batu besar itu masih terlihat.
Di belakangnya terdapat pepohonan yang rapat.
Aku menyipitkan mata.
Tidak ada apa-apa.
“Enggak... ayo.”
Aku kembali berjalan.
Baru beberapa meter...
Sret!
Terdengar suara seperti daun kering diinjak.
Kami semua berhenti.
“Dengar?”
Atam mengangguk.
Aku menatap ke arah belakang.
Kemudian sesuatu bergerak di antara pepohonan.
Cepat sekali.
Seperti bayangan manusia.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Kami mulai gelisah.
“Paling orang kampung,” kata salah seorang teman, mencoba menenangkan diri.
Aku ingin percaya.
Tetapi kemudian...
Bayangan itu muncul lagi.
Kali ini lebih jelas.
Sosok hitam berdiri di antara dua pohon.
Tinggi.
Diam.
Tidak bergerak.
Wajahnya tidak terlihat.
Aku mematung.
“Atam...”
“Iya.”
“Kamu lihat?”
Atam tidak menjawab.
Wajahnya pucat.
Tiba-tiba sosok itu bergerak.
Bukan berjalan.
Bukan berlari.
Ia seperti meluncur mendekati kami.
“LARI!”
Kami panik.
Namun belum sempat bergerak, tubuhku terasa seperti ditarik dari belakang.
Aku tersentak.
Sesuatu yang sangat dingin mencengkeram bahuku.
Aku berteriak.
“LEPAS!”
Teman-temanku menarik tubuhku.
“Sin!”
Aku tidak tahu apa yang mereka lihat.
Aku sendiri tidak bisa melihat tangan yang mencengkeramku.
Yang kurasakan hanya dingin.
Dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Kami menarik sekuat tenaga.
Dan tiba-tiba...
Lepas.
Aku terjatuh.
“Lari!”
Kami tidak menoleh lagi.
Kami hanya berlari.
Gadis itu kami bawa bersama.
Tidak peduli bagaimana caranya.
Yang penting menjauh dari tempat tersebut.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami menemukan sebuah perkampungan.
Kami meminta bantuan kepada warga.
Mereka segera mendatangi kami.
Ketika mengetahui kondisi gadis yang kami bawa, beberapa warga tampak saling berpandangan.
Salah seorang lelaki tua bertanya,
“Kalian menemukannya di mana?”
“Di Bukit Dungus Dao.”
Wajah lelaki itu berubah.
“Di mana?”
“Di dekat batu besar.”
Ia terdiam.
Kemudian berkata pelan,
“Bawa ke rumah Kakek.”
“Siapa?”
“Orang tua di ujung kampung.”
Kami tidak banyak bertanya.
Kami hanya ingin gadis itu sadar.
Rumah sang kakek sederhana.
Dindingnya terbuat dari papan.
Di ruang tengah hanya terdapat beberapa kursi kayu dan sebuah meja tua.
Kami membaringkan gadis itu.
Kakek tersebut memandanginya cukup lama.
Lalu ia duduk di sampingnya.
Matanya terpejam.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Beberapa saat kemudian, ia mengusap kepala gadis itu.
Kemudian membaca sesuatu yang tidak kami pahami.
Tubuh gadis itu tiba-tiba bergerak.
Dadanya naik turun.
Napasnya memburu.
Lalu...
Matanya terbuka.
“Ah...!”
Kami semua terkejut.
Gadis itu sadar.
Aku hampir menangis karena lega.
“Kek...” kataku sambil menghampirinya.
“Maaf sudah merepotkan. Terima kasih banyak sudah membantu kami.”
Aku mencium tangannya.
“Tidak apa-apa, Nak.”
Kakek itu tersenyum.
Kemudian ia menatap gadis tersebut.
“Memangnya tadi dia kenapa?”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang bagaimana kami menemukan gadis itu.
Tentang usaha kami menyadarkannya.
Dan akhirnya...
Tentang bayangan hitam yang kami lihat.
Ketika sampai pada bagian itu, wajah sang kakek berubah.
“Bayangan hitam?”
Aku mengangguk.
“Iya, Kek.”
Ia menatapku lama.
Kemudian tiba-tiba tertawa kecil.
“Ha... ha... ha...”
Aku bingung.
“Kenapa, Kek?”
Kakek itu menepuk pundakku.
“Berani sekali kalian.”
“Maksudnya?”
“Dia bukan tandingan kalian.”
Aku merasakan tengkukku kembali merinding.
“Dia siapa, Kek?”
Kakek itu tidak langsung menjawab.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian berkata,
“Penunggu Bukit Dungus Dao.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Apa?”
Atam langsung berdiri.
“Penunggu?”
Kakek itu mengangguk.
Kemudian ia memejamkan mata.
“Dahulu, tempat itu bukan tempat yang menakutkan.”
Suaranya perlahan.
“Bukit itu sangat indah.”
Kami semua mendengarkan.
“Namun semuanya berubah ketika zaman pendudukan Jepang.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Tempat itu pernah menjadi lokasi pembantaian.”
Kakek berhenti.
“Banyak warga dibawa ke sana.”
“Mereka dibunuh.”
Tidak ada yang berbicara.
“Batu besar yang kalian lihat...”
Kakek menunjuk ke arah luar rumah.
“...pernah penuh dengan darah.”
Aku teringat batu tersebut.
Batu yang sejak tadi siang terlihat biasa saja.
Kini bayangannya terasa berbeda dalam pikiranku.
“Konon,” lanjut kakek, “arwah orang-orang yang mati di sana tidak pernah pergi.”
Atam menelan ludah.
“Mereka masih tinggal di sana?”
Kakek mengangguk.
“Sebagian.”
Aku memberanikan diri bertanya.
“Lalu kenapa gadis ini?”
Kakek tidak menjawab.
Aku kembali bertanya.
“Kenapa dia yang pingsan?”
Kakek justru menatap gadis tersebut.
Tatapannya berubah serius.
“Karena mungkin...”
Ia berhenti.
“...ada sesuatu yang mengikutinya.”
Kami semua diam.
Tiba-tiba...
“Kak...”
Suara lirih terdengar dari balik tirai.
Kami semua menoleh.
Gadis itu sudah sadar sepenuhnya.
Aku segera menghampirinya.
“Iya, Dek?”
Dia menatapku.
Matanya berkaca-kaca.
“Adek sudah baikan?”
Ia mengangguk.
Aku duduk di sampingnya.
“Kalau mau menangis, menangis saja. Jangan ditahan.”
Aku melepas jaketku dan menyelimutinya.
“Sebentar lagi Magrib. Setelah salat, Kakak antar pulang.”
Gadis itu masih diam.
Kemudian air matanya jatuh.
Aku mencoba menenangkannya.
Namun tiba-tiba...
Tangannya menggenggam tanganku.
Kuat sekali.
“Kak...”
“Iya?”
Dia menatapku.
“Kakak tadi...”
Aku mendekat.
“Apa?”
Gadis itu berbisik,
“Waktu kami di batu itu...”
Napasnya bergetar.
“Aku dengar suara.”
“Suara siapa?”
Ia menundukkan kepala.
“Suara orang menangis.”
Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat.
“Terus?”
“Dia bilang...”
Gadis itu berhenti.
Aku menunggu.
“Dia bilang apa?”
Gadis itu mengangkat wajahnya.
Air matanya semakin deras.
“Tolong kami...”
Aku terdiam.
“Siapa yang bilang?”
“Tidak tahu.”
“Terus kenapa kamu pingsan?”
Gadis itu menggigit bibir.
“Aku melihat mereka.”
“Siapa?”
Dia menunjuk ke arah jendela.
Tangannya gemetar.
“Orang-orang...”
“Orang-orang apa?”
“Banyak.”
Aku mulai merinding.
“Mereka berdiri di belakang batu.”
Aku menatapnya.
“Terus?”
“Mereka semua...”
Gadis itu menangis.
“...berdarah.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Aku menoleh ke arah kakek.
Wajahnya sudah berubah.
Ia berdiri.
“Jangan bicara lagi.”
Aku bingung.
“Kenapa, Kek?”
Kakek berjalan menuju pintu.
“Karena mereka sudah datang.”
Kami semua membeku.
“Atas dasar apa Kakek bilang begitu?”
Kakek tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah halaman.
Aku ikut melihat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya halaman rumah yang mulai gelap.
Kemudian terdengar suara dari luar.
Tok...
Seperti seseorang mengetuk pintu.
Kami semua terdiam.
Tok...
Kali ini lebih keras.
Kakek berbisik,
“Jangan dibuka.”
Atam mundur.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian...
Tok... tok... tok...
Tiga ketukan.
Gadis itu tiba-tiba menjerit.
“ITU MEREKA!”
Aku memegang bahunya.
“Siapa?”
“Mereka datang untuk mengambilku!”
Kakek segera membaca doa.
Suasana semakin mencekam.
Kemudian terdengar suara perempuan dari luar.
Lirih.
Sangat lirih.
“Pulang...”
Gadis itu menangis semakin keras.
“Pulang...”
Suara itu terdengar lagi.
Namun kali ini dari arah yang berbeda.
Dari belakang rumah.
Kemudian dari samping.
Lalu...
dari dalam rumah.
Aku menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Kakek masih membaca doa.
Tiba-tiba gadis itu menunjuk ke belakangku.
Wajahnya pucat.
“Kak...”
“Apa?”
“Jangan lihat belakang.”
Jantungku serasa berhenti.
Aku tidak bergerak.
“Kenapa?”
Gadis itu menangis.
“Dia berdiri di belakang Kakak.”
Aku menutup mata.
Tidak berani menoleh.
Namun beberapa detik kemudian...
Aku merasakan udara di belakang leherku berubah.
Dingin.
Sangat dingin.
Lalu terdengar bisikan tepat di telingaku.
“Kenapa kalian membawa dia pergi?”
Aku langsung berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun tirai ruang tengah bergerak sendiri.
Padahal semua jendela tertutup.
Kakek tiba-tiba berteriak,
“Jangan lihat!”
Terlambat.
Di balik tirai...
aku melihat sesuatu.
Sosok hitam.
Berdiri membungkuk.
Tubuhnya penuh noda merah.
Dan di wajahnya...
tidak ada mata.
Hanya dua lubang hitam.
Sosok itu mengangkat tangannya.
Menunjuk ke arah gadis.
Aku ingin berteriak.
Namun suaraku tidak keluar.
Kemudian terdengar suara seperti jeritan dari kejauhan.
Bukan satu.
Bukan dua.
Puluhan suara.
Seperti orang-orang yang sedang memohon pertolongan.
“Tolong...”
“Tolong kami...”
“Tolong...”
Kakek terus membaca doa.
Gadis itu menangis.
Atam memeluk temannya.
Dan aku hanya bisa berdiri terpaku.
Sampai akhirnya...
suara azan Magrib terdengar dari masjid kampung.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Dalam sekejap...
sosok itu menghilang.
Udara kembali normal.
Suara-suara tadi lenyap.
Gadis itu akhirnya pingsan kembali.
Kami semua terdiam.
Kakek membuka matanya.
“Sekarang kalian mengerti?”
Aku mengangguk pelan.
“Mereka bukan ingin mencelakai kalian.”
“Lalu apa yang mereka inginkan, Kek?”
Kakek menatap kami.
“Mereka hanya ingin didengar.”
Aku terdiam.
Kakek melanjutkan,
“Selama bertahun-tahun tidak ada yang tahu bagaimana mereka mati.”
Ia menghela napas.
“Dan mungkin... gadis itu dipilih agar kalian mengetahui keberadaan mereka.”
Aku menatap ke luar jendela.
Langit sudah gelap.
Di kejauhan, Bukit Dungus Dao tampak seperti gundukan hitam yang menyatu dengan malam.
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi berani melewati bukit tersebut.
Namun beberapa tahun kemudian, aku kembali mendengar kabar tentang batu besar itu.
Konon, ketika hujan deras mengguyur bukit, warna merah sering muncul di sela-sela batu.
Sebagian orang menganggapnya hanya tanah.
Sebagian lagi mengatakan itu hanyalah lumut.
Tapi bagi kami yang pernah berada di sana...
kami tahu satu hal.
Ada tempat-tempat tertentu yang menyimpan sejarah terlalu kelam untuk dilupakan.
Dan ada kematian yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai.
Karena hingga hari ini, setiap kali melewati jalan menuju Bukit Dungus Dao, aku masih teringat suara itu.
Suara yang pernah kami dengar pada malam itu.
Suara orang-orang yang entah sudah berapa puluh tahun menunggu untuk didengar.
“Tolong kami...”
Dan terkadang...
ketika malam terlalu sunyi...
aku masih merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku.
Menunggu.
Menatap.
Dan berbisik pelan...
“Kenapa kalian meninggalkan kami?”
"Jika kamu menyukai kisah nyata ini, kamu bisa memberikan dukungan seikhlasnya melalui QR DANA yang ada di samping halaman ini (atau di bagian bawah bagi pengguna HP). Terima kasih!"
