pemandangan

pemandangan
Isin.doank@gmail.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Tak Pernah Kubayangkan, Sejauh Ini Aku Melangkah

 Tak pernah kubayangkan perjalanan pengabdianku akan sampai sejauh ini. Awalnya aku hanya ingin menjalani peran ku sebagai seorang guru dengan sebaik-baiknya. Medampingi murid belajar, bertumbuh bersama mereka, dan terus memperbaiki diri. Namun daam perjalanan, aku mulai menyadari bahwa kesempatan untuk memberi dampak bagi pendidikan datang dari arah yang tak pernah kuduga sebelumnya.

Keinginan ku menjadi bagian dari transformasi dan memberi dampak yag lebih luas telah membawaku megikuti seleksi Pengajar Praktik (PP) pada program Guru Penggerak. Saat itu, aku melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk belajar sekaligus berbagi pengalaman dengan guru lain. Aku tidak tahu sejauh apa perjalanan ini akan membawaku. Yang kupikirkan hanyalah mencoba, mempersiapkan diri, dan menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh.

Salah satu pengalaman yang masih kuingat terjadi ketika mengikuti wawancara seleksi Pengajar Praktik secara daring. Sebelum wawancara dimulai, aku sudah menyampaikan kepada para asesor bahwa aku tinggal di daerah perbukitan dengan sinyal yang kadang naik turun. Aku bahkan berpesan, kurang lebih, “Seandainya saya terlempar, mohon ditunggu, ya. Di sini daerah perbukitan, sinyalnya naik turun.”

Benar saja, di tengah wawancara, tiba-tiba listrik padam. Koneksi internet pun terputus dan aku terempar dari ruang wawancara. Dalam situasi seperti itu, tentu muncul kekhawatiran bahwa proses wawancara akan terhenti. Namun, para asesor berkenan menunggu. Setelah terhubung kembali, aku masuk lagi ke ruang wawancara dan melanjutkan proses yang sempat terputus. Walaupun wawancara berlangsung lebih lama, tetapi akhirnya dapat diteruskan.

Dari peristiwa itu aku belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai recana. Kadang ada hal yang berada diluar kedali, dan yang bisa kulakukan adalah mempersiapkan diri, menyampaikan kendala dengan jujur dan berusaha maksimal ketika kesempatan kembali terbuka. Kebaikan para asesor yang berkenan menunggu juga mengingatkanku bahwa di balik proses seleksi yang formal, selalu ada ruang untuk saling memahami.

Setelah menjaani seluruh proses seleksi dan dinyatakan lulus, aku menjalani tugas sebagai Pengajar Praktik, mendampingi Calon Guru Penggerak (CGP). Peran ini memberiku kesempatan untuk melihat lebih dekat perjuangan para guru yang sedang belajar, bertumbuhdan memperbaiki praktik pembelajaran. Aku datang bukan sebagai orang yang paling tahu, melainkan sebagai rekan belajar yang mendampingi, mengajukan pertanyaan, dan membantu mereka merefleksikan prosesnya.

Ada pula perjalanan menuju CGP lain, saat itu hujan telah membuat jalan menjadi icin. Diturunan yang sangat curam, motorku tergelincir dan membentur tebing di tepi jurang. Aku selamat, namun kejadian itu memberiku peajaran bahwa. Setiap perjalanan mengajarkan untuk lebih waspada, mengenali keterbatasan, dan memahami bahwa membantu orang lain tidak berarti mengabaikan risiko.

Seiring waktu, aku terus belajar dan mengembangkan kompetensi. Kesempatan berikutnya datang ketika dibuka pendaftaran calon fasilitator Guru Penggerak. Aku mengikuti seluruh proses seleksi, dan dinyatakan lulus. aku dipercaya menjalankan peran sebagai Fasilitator Guru Penggerak. Tanggung jawab ini berbeda dari Pengajar Praktik, tetapi semangat dasarnya tetap sama: mendampingi proses belajar, membuka ruang refleksi, dan membantu CGP membangun pemahaman bersama. Semua itu kulakukan sambil tetap menjalankan tugasku sebagai guru

Menjalakan beberapa peran sekaligus bukan hal yang selalu mudah. Aku harus mengatur waktu, menjaga komitmen, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang datang silih berganti. Masih teringat sebuah peristiwa saat memfasilitasidan memandu diskusi di sesi ruang kolaborasi melaui Google Meet, tiba-tiba mendapat kabar bahwa anakku pulang lebih awal dan harus segera dijemput.

Saat itu, dua tanggung jawab hadir bersamaan: tugas profesional yang sedang berlangsung dan tanggung jawab sebagai orang tua. Aku berusaha mengatur keadaan sebaik mungkin. Dalam perjalanan menjemput anak, aku tetap terhubung dengan sesi daring walau sempat berhenti di beberapa titik untuk memfasilitasi diskusi. Situasi itu jauh dari kata ideal, tetapi menjadi pengingat nyata tentang tantangan membagi perhatian antara pekerjaan dan keluarga.

Dari pengalaman tersebut aku belajar bahwa mejalankan amanah bukan berarti harus selalu mampu melakukannya dengan sempurna. Ada kalanya kita perlu mengatur ulang prioritas, mencari cara yang ebih baik, dan mengakui bahwa peran sebagai pendidik tidak menghapus peran kita di rumah. Profesionalisme bukan berarti terus bekerja dalam keadaan apa pun, melainkan juga berusaha mengambil keputusan yang bertanggung jawab bagi semua pihak yang membutuhkan kita.

Perjalananku kemudian berlanjut ke peran sebagai Instruktur Guru Penggerak. Aku bersyukur mendapat kesempatan untuk terus berkontribusi dalam ruang pengembangan guru. Ada satu hal yang membuatku merasa tertantang: di antara para instruktur, aku merupakan satu-satunya yang masih bertugas sebagai guru. Instruktur lainnya berasal dari latar belakang pengawas sekolah, dosen, dan praktisi.

Perbedaan latar belakang itu membuatku sedikit merenung.. Namun, berada di ruang tersebut membuatku tertantang untuk membuktikan bahwa seorang guru yang masih mengajar di sekolah juga mampu mengambil bagian dalam pengembangan kompetensi guru pada lingkup yang lebih luas..

Di tahun ke dua mejalankan tugas sebagai fasilitator, aku juga menjalani proses CGP rekognisi. Sampai akhirnya dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat Guru Penggerak. Bagiku, sertifikat bukan sekadar dokumen atau tanda telah menyelesaikan program. Akantetapi Sertifikat tersebut menjadi pengingat atas proses belajar, usaha mengembangkan kompetensi, dan komitmen untuk terus bertumbuh sebagai pendidik.

Aku tidak menyangka bahwa sertifikat itu akan membawaku pada kesempatan berikutnya: mengikuti seleksi pengawas sekolah. Sekali lagi, aku memasuki proses baru tanpa mengetahui pasti ke mana langkah tersebut akan membawaku. Aku hanya berusaha menjalani setiap tahap dengan sebaik-baiknya. Ketika akhirnya mendapat amanah sebagai pengawas sekolah, perjalanan pengabdianku memasuki babak yang sama sekali berbeda dari yang pernah kubayangkan.

Kini dua tahun sudah kujalani tugas ku sebagai seorang pengawas sekolah. Perubahan peran ini membuat ruang tanggung jawabku semakin luas. Jika dahulu sebagian besar perhatianku tertuju pada murid dan pembelajaran di kelas, kini aku juga mendampingi sekolah dan guru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Meski bentuk tugasnya berubah, aku ingin tetap membawa semangat yang sama: belajar, mendengarkan, merefleksikan, dan mencari cara agar kehadiranku memberi manfaat.

Ketika menengok kembali perjalanan ini, aku melihat bahwa setiap tahap saling terhubung. Pengalaman sebagai guru menjadi bekal ketika mendampingi CGP. Peran sebagai Pengajar Praktik membuka ruang untuk memahami proses perubahan dari dekat. Pengalaman sebagai Fasilitator dan Instruktur memperluas kesempatan untuk berbagi dan belajar bersama para pendidik. Proses CGP Rekognisi menguatkan perjalanan pengembangan diri, sedangkan sertifikat Guru Penggerak menjadi salah satu pintu menuju seleksi pengawas sekolah.

Namun, aku tidak ingin mengukur perjalanan ini hanya dari perubahan peran atau jabatan. Yang lebih penting adalah pelajaran yang dibawa setiap tahap: berani mencoba meski hasilnya belum pasti, bertahan tanpa mengabaikan keselamatan, menjaga tanggung jawab profesional sekaligus keluarga, serta tetap rendah hati ketika berada di lingkungan yang lebih luas. Tidak semua proses berlangsung mulus. Ada koneksi yang terputus, perjalanan yang penuh risiko, waktu yang harus dibagi, dan tantangan yang membuatku mempertanyakan kemampuan sendiri. Semua itu menjadi bagian dari cerita yang membentuk diriku hari ini.

Aku tidak pernah menyangka perjalananku akan sampai di sini. Dulu, aku hanya ingin menjadi guru yang terus belajar dan memberi dampak lebih luas bagi pendidikan. Kini, aku menjalani amanah sebagai pengawas sekolah, setelah melewati berbagai kesempatan dan proses yang tidak pernah kurancang sepenuhnya sejak awal. Aku belajar bahwa kita tidak harus mengetahui seluruh peta perjalanan sebelum berani mengambil langkah pertama. Kadang-kadang, yang diperlukan adalah kesediaan untuk mencoba, kesungguhan untuk belajar, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Perjalanan ini tentu belum selesai. Jabatan dapat berubah, tanggung jawab dapat bertambah, dan tantangan baru akan selalu datang. Aku ingin terus mengingat bahwa apa pun peran yang kujalani, identitasku sebagai pendidik harus tetap berakar pada semangat untuk melayani dan belajar. Sebab, keberhasilan bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan sepanjang perjalanan.

Jika ada satu hal yang ingin kubagikan melalui cerita ini, barangkali inilah: jangan buru-buru membatasi diri pada apa yang kita bayangkan hari ini. Teruslah belajar, ambillah kesempatan yang selaras dengan nilai pengabdian, dan jalani setiap proses dengan sungguh-sungguh. Kita tidak selalu bisa menebak ke mana langkah itu akan membawa kita. Aku sendiri menjadi saksi bahwa perjalanan seorang guru dapat berkembang jauh melampaui bayangan awalnya.

Dan ketika suatu hari aku kembali menoleh ke belakang, aku ingin tetap dapat berkata dengan penuh syukur: aku tidak pernah membayangkan akan sampai sejauh ini.

"Jika kamu menyukai kisah nyata ini, kamu bisa memberikan dukungan seikhlasnya melalui QR DANA yang ada di samping halaman ini (atau di bagian bawah bagi pengguna HP). Terima kasih!"

Sabtu, 03 Oktober 2026

Batu Berdarah Di Bukit Dungus Dao


BATU BERDARAH DI BUKIT DUNGUS DAO

Cerita ini diangkat dari kisah nyata yang dialami penulis pada masa “putih abu-abu”. Beberapa nama dan detail kecil disamarkan. Selebihnya, kejadian ini masih tersimpan kuat dalam ingatan hingga hari ini.


Matahari hampir tenggelam ketika kami menemukan gadis itu.

Awalnya kami mengira dia hanya kelelahan.

Tubuhnya terbaring di samping sebuah batu besar. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan kedua matanya terpejam rapat.

“Dek...!”

Aku berjongkok di sampingnya.

“Dek, bangun!”

Tidak ada jawaban.

Aku menepuk pipinya pelan.

Tetap tidak ada reaksi.

“Coba periksa napasnya.”

Salah seorang temanku segera berjongkok.

“Masih bernapas.”

Kami semua menghela napas lega.

Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.

Entah kenapa, sejak menemukan gadis itu, suasana di sekitar kami terasa berbeda.

Hutan yang sejak tadi ramai oleh suara burung mendadak sunyi.

Angin pun seolah berhenti.

Tidak ada suara.

Benar-benar tidak ada.

Kami saling berpandangan.

“Sin...” bisik Atam.

Aku menoleh.

“Apa?”

“Tempat ini... kok tiba-tiba sepi, ya?”

Aku tidak menjawab.

Aku sendiri merasakan hal yang sama.

Kami sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju lokasi perkemahan. Tetapi karena menemukan gadis tersebut, kami terpaksa menghentikan perjalanan.

Masalahnya, kami masih jauh dari perkemahan.

Sementara matahari terus bergerak turun.

“Gimana?” tanyaku.

“Harus dibawa ke kampung.”

Akhirnya kami sepakat.

Dengan peralatan seadanya, kami mengangkat gadis itu.

Namun baru beberapa langkah...

Aku merasa seperti sedang diperhatikan.

Aku berhenti.

“Kenapa berhenti, Sin?”

Aku menoleh ke belakang.

Batu besar itu masih terlihat.

Di belakangnya terdapat pepohonan yang rapat.

Aku menyipitkan mata.

Tidak ada apa-apa.

“Enggak... ayo.”

Aku kembali berjalan.

Baru beberapa meter...

Sret!

Terdengar suara seperti daun kering diinjak.

Kami semua berhenti.

“Dengar?”

Atam mengangguk.

Aku menatap ke arah belakang.

Kemudian sesuatu bergerak di antara pepohonan.

Cepat sekali.

Seperti bayangan manusia.

“Siapa itu?”

Tidak ada jawaban.

Kami mulai gelisah.

“Paling orang kampung,” kata salah seorang teman, mencoba menenangkan diri.

Aku ingin percaya.

Tetapi kemudian...

Bayangan itu muncul lagi.

Kali ini lebih jelas.

Sosok hitam berdiri di antara dua pohon.

Tinggi.

Diam.

Tidak bergerak.

Wajahnya tidak terlihat.

Aku mematung.

“Atam...”

“Iya.”

“Kamu lihat?”

Atam tidak menjawab.

Wajahnya pucat.

Tiba-tiba sosok itu bergerak.

Bukan berjalan.

Bukan berlari.

Ia seperti meluncur mendekati kami.

“LARI!”

Kami panik.

Namun belum sempat bergerak, tubuhku terasa seperti ditarik dari belakang.

Aku tersentak.

Sesuatu yang sangat dingin mencengkeram bahuku.

Aku berteriak.

“LEPAS!”

Teman-temanku menarik tubuhku.

“Sin!”

Aku tidak tahu apa yang mereka lihat.

Aku sendiri tidak bisa melihat tangan yang mencengkeramku.

Yang kurasakan hanya dingin.

Dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Kami menarik sekuat tenaga.

Dan tiba-tiba...

Lepas.

Aku terjatuh.

“Lari!”

Kami tidak menoleh lagi.

Kami hanya berlari.

Gadis itu kami bawa bersama.

Tidak peduli bagaimana caranya.

Yang penting menjauh dari tempat tersebut.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami menemukan sebuah perkampungan.

Kami meminta bantuan kepada warga.

Mereka segera mendatangi kami.

Ketika mengetahui kondisi gadis yang kami bawa, beberapa warga tampak saling berpandangan.

Salah seorang lelaki tua bertanya,

“Kalian menemukannya di mana?”

“Di Bukit Dungus Dao.”

Wajah lelaki itu berubah.

“Di mana?”

“Di dekat batu besar.”

Ia terdiam.

Kemudian berkata pelan,

“Bawa ke rumah Kakek.”

“Siapa?”

“Orang tua di ujung kampung.”

Kami tidak banyak bertanya.

Kami hanya ingin gadis itu sadar.


Rumah sang kakek sederhana.

Dindingnya terbuat dari papan.

Di ruang tengah hanya terdapat beberapa kursi kayu dan sebuah meja tua.

Kami membaringkan gadis itu.

Kakek tersebut memandanginya cukup lama.

Lalu ia duduk di sampingnya.

Matanya terpejam.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Beberapa saat kemudian, ia mengusap kepala gadis itu.

Kemudian membaca sesuatu yang tidak kami pahami.

Tubuh gadis itu tiba-tiba bergerak.

Dadanya naik turun.

Napasnya memburu.

Lalu...

Matanya terbuka.

“Ah...!”

Kami semua terkejut.

Gadis itu sadar.

Aku hampir menangis karena lega.

“Kek...” kataku sambil menghampirinya.

“Maaf sudah merepotkan. Terima kasih banyak sudah membantu kami.”

Aku mencium tangannya.

“Tidak apa-apa, Nak.”

Kakek itu tersenyum.

Kemudian ia menatap gadis tersebut.

“Memangnya tadi dia kenapa?”

Aku menceritakan semuanya.

Tentang bagaimana kami menemukan gadis itu.

Tentang usaha kami menyadarkannya.

Dan akhirnya...

Tentang bayangan hitam yang kami lihat.

Ketika sampai pada bagian itu, wajah sang kakek berubah.

“Bayangan hitam?”

Aku mengangguk.

“Iya, Kek.”

Ia menatapku lama.

Kemudian tiba-tiba tertawa kecil.

“Ha... ha... ha...”

Aku bingung.

“Kenapa, Kek?”

Kakek itu menepuk pundakku.

“Berani sekali kalian.”

“Maksudnya?”

“Dia bukan tandingan kalian.”

Aku merasakan tengkukku kembali merinding.

“Dia siapa, Kek?”

Kakek itu tidak langsung menjawab.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian berkata,

“Penunggu Bukit Dungus Dao.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Apa?”

Atam langsung berdiri.

“Penunggu?”

Kakek itu mengangguk.

Kemudian ia memejamkan mata.

“Dahulu, tempat itu bukan tempat yang menakutkan.”

Suaranya perlahan.

“Bukit itu sangat indah.”

Kami semua mendengarkan.

“Namun semuanya berubah ketika zaman pendudukan Jepang.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Tempat itu pernah menjadi lokasi pembantaian.”

Kakek berhenti.

“Banyak warga dibawa ke sana.”

“Mereka dibunuh.”

Tidak ada yang berbicara.

“Batu besar yang kalian lihat...”

Kakek menunjuk ke arah luar rumah.

“...pernah penuh dengan darah.”

Aku teringat batu tersebut.

Batu yang sejak tadi siang terlihat biasa saja.

Kini bayangannya terasa berbeda dalam pikiranku.

“Konon,” lanjut kakek, “arwah orang-orang yang mati di sana tidak pernah pergi.”

Atam menelan ludah.

“Mereka masih tinggal di sana?”

Kakek mengangguk.

“Sebagian.”

Aku memberanikan diri bertanya.

“Lalu kenapa gadis ini?”

Kakek tidak menjawab.

Aku kembali bertanya.

“Kenapa dia yang pingsan?”

Kakek justru menatap gadis tersebut.

Tatapannya berubah serius.

“Karena mungkin...”

Ia berhenti.

“...ada sesuatu yang mengikutinya.”

Kami semua diam.

Tiba-tiba...

“Kak...”

Suara lirih terdengar dari balik tirai.

Kami semua menoleh.

Gadis itu sudah sadar sepenuhnya.

Aku segera menghampirinya.

“Iya, Dek?”

Dia menatapku.

Matanya berkaca-kaca.

“Adek sudah baikan?”

Ia mengangguk.

Aku duduk di sampingnya.

“Kalau mau menangis, menangis saja. Jangan ditahan.”

Aku melepas jaketku dan menyelimutinya.

“Sebentar lagi Magrib. Setelah salat, Kakak antar pulang.”

Gadis itu masih diam.

Kemudian air matanya jatuh.

Aku mencoba menenangkannya.

Namun tiba-tiba...

Tangannya menggenggam tanganku.

Kuat sekali.

“Kak...”

“Iya?”

Dia menatapku.

“Kakak tadi...”

Aku mendekat.

“Apa?”

Gadis itu berbisik,

“Waktu kami di batu itu...”

Napasnya bergetar.

“Aku dengar suara.”

“Suara siapa?”

Ia menundukkan kepala.

“Suara orang menangis.”

Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat.

“Terus?”

“Dia bilang...”

Gadis itu berhenti.

Aku menunggu.

“Dia bilang apa?”

Gadis itu mengangkat wajahnya.

Air matanya semakin deras.

“Tolong kami...”

Aku terdiam.

“Siapa yang bilang?”

“Tidak tahu.”

“Terus kenapa kamu pingsan?”

Gadis itu menggigit bibir.

“Aku melihat mereka.”

“Siapa?”

Dia menunjuk ke arah jendela.

Tangannya gemetar.

“Orang-orang...”

“Orang-orang apa?”

“Banyak.”

Aku mulai merinding.

“Mereka berdiri di belakang batu.”

Aku menatapnya.

“Terus?”

“Mereka semua...”

Gadis itu menangis.

“...berdarah.”

Ruangan mendadak terasa dingin.

Aku menoleh ke arah kakek.

Wajahnya sudah berubah.

Ia berdiri.

“Jangan bicara lagi.”

Aku bingung.

“Kenapa, Kek?”

Kakek berjalan menuju pintu.

“Karena mereka sudah datang.”

Kami semua membeku.

“Atas dasar apa Kakek bilang begitu?”

Kakek tidak menjawab.

Ia hanya menatap ke arah halaman.

Aku ikut melihat.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya halaman rumah yang mulai gelap.

Kemudian terdengar suara dari luar.

Tok...

Seperti seseorang mengetuk pintu.

Kami semua terdiam.

Tok...

Kali ini lebih keras.

Kakek berbisik,

“Jangan dibuka.”

Atam mundur.

“Siapa itu?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian...

Tok... tok... tok...

Tiga ketukan.

Gadis itu tiba-tiba menjerit.

“ITU MEREKA!”

Aku memegang bahunya.

“Siapa?”

“Mereka datang untuk mengambilku!”

Kakek segera membaca doa.

Suasana semakin mencekam.

Kemudian terdengar suara perempuan dari luar.

Lirih.

Sangat lirih.

“Pulang...”

Gadis itu menangis semakin keras.

“Pulang...”

Suara itu terdengar lagi.

Namun kali ini dari arah yang berbeda.

Dari belakang rumah.

Kemudian dari samping.

Lalu...

dari dalam rumah.

Aku menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Kakek masih membaca doa.

Tiba-tiba gadis itu menunjuk ke belakangku.

Wajahnya pucat.

“Kak...”

“Apa?”

“Jangan lihat belakang.”

Jantungku serasa berhenti.

Aku tidak bergerak.

“Kenapa?”

Gadis itu menangis.

“Dia berdiri di belakang Kakak.”

Aku menutup mata.

Tidak berani menoleh.

Namun beberapa detik kemudian...

Aku merasakan udara di belakang leherku berubah.

Dingin.

Sangat dingin.

Lalu terdengar bisikan tepat di telingaku.

“Kenapa kalian membawa dia pergi?”

Aku langsung berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun tirai ruang tengah bergerak sendiri.

Padahal semua jendela tertutup.

Kakek tiba-tiba berteriak,

“Jangan lihat!”

Terlambat.

Di balik tirai...

aku melihat sesuatu.

Sosok hitam.

Berdiri membungkuk.

Tubuhnya penuh noda merah.

Dan di wajahnya...

tidak ada mata.

Hanya dua lubang hitam.

Sosok itu mengangkat tangannya.

Menunjuk ke arah gadis.

Aku ingin berteriak.

Namun suaraku tidak keluar.

Kemudian terdengar suara seperti jeritan dari kejauhan.

Bukan satu.

Bukan dua.

Puluhan suara.

Seperti orang-orang yang sedang memohon pertolongan.

“Tolong...”

“Tolong kami...”

“Tolong...”

Kakek terus membaca doa.

Gadis itu menangis.

Atam memeluk temannya.

Dan aku hanya bisa berdiri terpaku.

Sampai akhirnya...

suara azan Magrib terdengar dari masjid kampung.

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Dalam sekejap...

sosok itu menghilang.

Udara kembali normal.

Suara-suara tadi lenyap.

Gadis itu akhirnya pingsan kembali.

Kami semua terdiam.

Kakek membuka matanya.

“Sekarang kalian mengerti?”

Aku mengangguk pelan.

“Mereka bukan ingin mencelakai kalian.”

“Lalu apa yang mereka inginkan, Kek?”

Kakek menatap kami.

“Mereka hanya ingin didengar.”

Aku terdiam.

Kakek melanjutkan,

“Selama bertahun-tahun tidak ada yang tahu bagaimana mereka mati.”

Ia menghela napas.

“Dan mungkin... gadis itu dipilih agar kalian mengetahui keberadaan mereka.”

Aku menatap ke luar jendela.

Langit sudah gelap.

Di kejauhan, Bukit Dungus Dao tampak seperti gundukan hitam yang menyatu dengan malam.

Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi berani melewati bukit tersebut.

Namun beberapa tahun kemudian, aku kembali mendengar kabar tentang batu besar itu.

Konon, ketika hujan deras mengguyur bukit, warna merah sering muncul di sela-sela batu.

Sebagian orang menganggapnya hanya tanah.

Sebagian lagi mengatakan itu hanyalah lumut.

Tapi bagi kami yang pernah berada di sana...

kami tahu satu hal.

Ada tempat-tempat tertentu yang menyimpan sejarah terlalu kelam untuk dilupakan.

Dan ada kematian yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai.

Karena hingga hari ini, setiap kali melewati jalan menuju Bukit Dungus Dao, aku masih teringat suara itu.

Suara yang pernah kami dengar pada malam itu.

Suara orang-orang yang entah sudah berapa puluh tahun menunggu untuk didengar.

“Tolong kami...”

Dan terkadang...

ketika malam terlalu sunyi...

aku masih merasa ada seseorang yang berdiri di belakangku.

Menunggu.

Menatap.

Dan berbisik pelan...

“Kenapa kalian meninggalkan kami?”


"Jika kamu menyukai kisah nyata ini, kamu bisa memberikan dukungan seikhlasnya melalui QR DANA yang ada di samping halaman ini (atau di bagian bawah bagi pengguna HP). Terima kasih!"

Jumat, 22 September 2023

Permintaan Terakhir

Minggu pagi aku dan anggota PMR lainnya berkumpul dilapangan sekolah untuk mengadakan latihan rutin. Ida salah seorang anggota PMR terlihat murung dan kurang bersemangat padahal dia biasanya paling semangat kalau latihan. 
"Istirahat aku harus bicara dengannya. Sebagai komandan sudah seharusnya berempati terhadap anggotanya. Aku harus tahu apa yang menyebabkan seorang Ida anak buahku bersikap tidak seperti biasanya". Dalam hati aku bergumam. 

Waktu istirahatpun tiba, aku menghampirinya.  "Da, kamu baik-baik aja kan?... Kamu beda deh hari ini, gak seperti biasanya...?". Tanyaku sama Ida.
Dia menghela napas lalu berkata: "Kang, kalau Ida punya satu permintaan dari Akang, apakah akan mengabulkannya? anggap saja ini permintaan terakhir Ida..." Tanya ida sambil menatap penuh harap. 
"ya Ampuun Da... Ko kamu ngomongnya gituh siih, kayak mo kemana aja..." jawabku santai sambil sedikit tertawa. 

Dia meraih tanganku dan meletakan diatas kepalanya. " Please...ya kang, ini serius... Berjanjilah akang akan mengabulkannya". Ida memintaku setengah memaksa.  "Aku..., Apa yang kau ingankan dari aku" tanyaku penasaran sambil menurunkan tangan dari atas kepalanya.

"Berjanjilah dulu.., baru aku kasih tahu permintaannya.  Ayolah kang..." jawab Ida setengah memaksa. "Oke...oke... Aku janji..." Jawabku meyakinkan Ida. 

"Jadikan Nisa sebagai kekasihmu kang...please ya..." Ida mengungkapkan permintaannya seraya memohon.

"Haaaah..." Jawabku sedikit melongo.
Mendengar nama Nisa sontak aku kaget. Seketika pikiranku mengembara teringat sebuah momen bersama Nisa saat tragedi bukit Dungus Dao. Masih terbayang saat dia menangis, memeluk dan meminta maaf , teringat kenangan saat jalan bareng pulang sekolah bersama Nisa. Dia gadis yang baik, ramah, supel, dan juga cantik. Akantetapi.....

"Kang....kang..." Panggil Ida sambil menepuk pundakku...
"Iya, iya,..." jawabku sambil mengangguk-ngangguk.

"Ingat ya kang, akang sudah berjanji loh, Ida bisa tenang sekarang" Ida menunduk terlihat matanya berkaca-kaca.

"Emangnya kenapa siih Da... ko kamu ke'nya maksa banget deh...?" tanya ku keheranan.

Ida menghela napas lalu menuturkan...   " Kang, Ida divonis menderita penyakit  x sama dokter, hidup Ida tidak akan lama lagi..., Ida mau kembali ke Riau ketempat kelahiran, bersekolah disana, mengabiskan sisa umur Ida disana..." Ida kembali menunduk sambil terisak namun tetap melanjutkan ceritanya. " Kang...Nisa itu satu-satunya temen baik Ida disekolah ini, bisa dibilang bestie nya Ida. Ida nitip Nisa ya Kang... dia orangnya baik, supel, dan pengertian. Dia sering curhat loh tentang akang. Apalagi setelah Nisa pulang bareng sama akang. Dikelas 11 heboh loh Nisa itu pacarnya akang. Please ya nitip Nisa... dan perlu akang tahu Nisa sangat berharap dari Akang...".

Jlegg....bagai disambar petir disiang bolong. Mendengar penuturan Ida rasanya dada ini sesak, rasa ga percaya dengan kenyataan kalau aku akan kehilangan sosok anggota sekaligus teman baik yang begitu dekat. Sulit membayangkan bagaimana perasaannya ketika hidupnya sudah divonis tidak akan lama lagi. Aku bisa merasakan kesedihannya, ingin rasanya aku menangis, tapi aku laki-laki, sebagai laki-laki aku dilarang menangis walaupun hati teriris.
"Da... aku yakin dokter telah salah mendiagnosa, kamu jangan percaya dokter. Kamu ga apaapa kan? kamu sehat, kamu kuat..." kataku memotivasi Ida.

"Sudahlah kang...akang gak perlu menghibur Ida..." vonis dokter memang benar, gejala-gejala yang dijelaskan dokter benar adanya. Ida pasrah... Ida sudah siap kok menjalaninya..." Ida menatap dengan tatapan yang pasrah sambil menyeka air dipelupuk matanya. 

"Da... maafkan aku ya, aku ikut prihatin dengan apa yang dialami Ida. Aku ikut sedih dan menyesal karena ga bisa berbuat apa-apa. maafkan aku ya Da...mungkin aku pernah berbuat salah sama Ida". Kataku kepada Ida.
" Enggak Kang, nggak ada yang perlu dimaafkan, terima kasih akang sudah begitu baik sama Ida. Ida cuma minta akang lakukan janji akang sama Ida" jawab Ida mengingatkan kembali janji aku.

" Baiklah Da aku janji..." jawabku sama Ida
Ya Tuhan berat sekali janji yang harus aku tepati..., aku harus gimana ? lagian belum tentu Nisa mau sama aku...". Gumamku didalam hati. 

<<<<Bersambung>>>>

 

Minggu, 27 Februari 2022

Jaket Merah Marun

 Jaket Merah Marun Bagian 1



Bel istirahat berbunyi, aku bergegas ke ruang PMR menyelesaikan proposal pelantikan calon anggota (CA) yang akan segera digelar. Ku mainkan jari jemari di atas mesin tik yang usang. Irama mesin tik memenuhi ruang markas PMR yang tidak terlalu luas. 

Tetiba terdengar suaru pintu diketuk. Dialah Susi seorang anggota PMR meminta ijin masuk ruangan. Dia  menyampaikan kalau ada seorang siswi dari kelas x yang ingin bertemu. Ku persilakan Ia masuk, sementara Susi langsung pamit meninggalkan ruangan PMR.

Tiba-tiba dia merangkulku. Ia menangis, dan  meminta maaf,  sebelumnya telah banyak merepotkan. Ia juga berterima kasih karena telah menolongnya saat itu.

Aku benar-benar kaget, belum enggeuh, siapa gerangan gadis ini?, tiba-tiba datang, merangkul, dan menangis ...

Kemudian Dia membuka sebuah tas dan mengeluarkan sebuah jaket perasit berwarna merah marun. Melihat jaket tersebut barulah aku ingat, dia gadis itu... gadis yang pernah Ku tolong di bukit Dungus Dao...

Saat itu dia mengalami sengatan dingin, badannya menggigil, mulutnya gemetar, bibirnya membiru. Sungguh malang gadis itu, ia mengalami derita yang luar biasa.

Aku bukanlah petugas medis, namun sebagai PMR aku berkewajiban memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Jaket merah marun kupakaikan pada gadis itu untuk sedikit menghangatkan tubuhnya.

Dia menyerahkan jaket merah marunku sambil berkata " Kang terima kasih karena sudah menolongku, semoga Tuhan membalas kebaikan akang". Ia pun meminta sekiranya tidak ada acara, selepas pulang sekolah bisa bareng ke alun-alun. Kebetulan hari itu tidak ada acara, jadi dengan senang hati aku menyetujuinya. 

Ia manatapku dengan tatapan yang cukup tajam. Aku membalas tatapannya, terlihat matanya yang indah, belo dan sayu. Kemudian dia menundukan pandangannya dan tersenyum.

 Saat ingin kukatakan sesuatu, tiba-tiba bel masuk setelah istirahat berbunyi...

...Bersambung...









Minggu, 12 September 2021

Sang Penunggu

Sang Penunggu

Cerita ini bukanlah fiktif, diangkat dari kisah nyata pengalaman Penulis pada masa Putih Abu.  Di abadikan sebagai kenangan dan hiburan semata. Selamat membaca...!

Hari sudah senja. Isin dan kawan-kawan masih jauh dari perkemahan. Salah satu peserta putri tak sadarkan diri. Berbagai upaya dilakukan Isin dan kawan-kawan sebagai upaya P3K. Namun hasilnya nihil gadis itu masih tak sadarkan diri. 

Sesuatu diluar nalar pun terjadi. Sesosok bayangan hitam hampir saja mencelakai Isin  dan kawan-kawan. Beruntung Isin dan kawan-kawan berhasil lepas dari cengkeraman .

Gak mau berputus asa Isin dan kawan-kawan kembali mengevakuasi sang gadis ke perkampungan terdekat. Namun kali ini ia dibawa ke orang pintar berdasarkan petunjuk dari penduduk.

Berkat bantuan orang pintar paruh baya, akhirnya sang gadis berhasil di sadarkan. 

"Kek... maaf sudah merepotkan. Terima kasih sudah bersedia membantu kami. Semoga Tuhan memberikan balasan yang berlipat ganda bagi Kakek"  Kata Isin sambil mencium tangan sang kakek. 

"Tidak apa-apa nak, ini sudah tugas kakek.... Memangnya tadi dia kenapa?" Tanya Kakek sambil menunjuk sang gadis yang terbaring lemas. Di balik tirai ruang tengah.

Dengan terbata-bata Isin menceritakan kronologis kejadian kepada sang kakek. 

 " Begini Kek, saat kami mau berangkat keperkemahan. Kami menemukan gadis ini pingsan di batu besar bukit Dungus Dao. Kami berusaha menolongnya namun tidak berhasil bahkan hampir saja kami celaka..."

Sang kakek pun tertawa. "Ha, ha, ha..." Berani sekali kamu nak.... Dia bukanlah tandinganmu...." Kakek sambil menepuk pundak Isin. 

"Maksud Kakek dia itu siapa Kek?" tanya Isin keheranan. Sang kakek meng hela napas..., lalu menjawab, "sosok bayangan hitam itu nak...  Dia adalah penunggu bukit Dungus Dao."  Semua kaget, dan spontan berkata, "Apa...?" 

"Wiiih...Serrem...!" Atam bergidik.

Sang kakek lalu memejamkan mata. Menerawang menggunakan mata batinnya.  berdasarkan penerawangannya sang kakek bercerita.

"Dahulu tempat itu sangat indah... Namun saat masa pendudukan tempat itu menjadi lokasi pembantaian oleh para tentara Jepang. Banyak warga sini menjadi korban pembantaian di tempat itu. Batu besar itu penuh dengan darah. Di batu itulah bersemayam arwah-arwah penasaran para korban pembantaian" 

Mendengar cerita sang kakek semua terkaget-kaget, rasanya merinding, Bahkan bulu kuduk pun mulai berdiri, tak terkecuali Isin. 

Suasana menjadi hening...  

Semua orang fokus pada sang Kakek berharap si Kakek melanjutkan penerawangannya. Ada banyak pertanyaan di benak kepala Isin dan kawan- kawan. Mengapa para penduduk di bantai? Dan apa  alasannya arwah itu merasuki tubuh sang gadis? 

Saat sang Kakek akan melanjutkan penerawangannya, tiba-tiba... terdengar suara lirih dari balik tirai..."Kakak..!"

Mendengar suara lirih, isin menyela, " Kek, lanjutkan ceritanya ke teman-temen. Biar saya yang urus gadis itu." 

Isin segera menghampiri sang gadis, dan manyapanya."Iya dek... Adek udah baikan...?" Gadis itu mengangguk sambil menundukkan pandangannya. Pandangannya kosong, gemetar bibirnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, bak ingin menangis dan berteriak.

"Adek dengarkan kakak..., kalau ingin menagis, menangis aja jangan di tahan,  adek gak usah malu... sebentar lagi adzan magrib dan selepas solat magrib kakak akan anter adek pulang kerumah. Adek mau kan?" 

Dengan penuh perhatian Isin membujuk sang gadis agar mau dipulangkan, Sambil membuka jaket yang dipakai dan memberikannya kepada sang gadis agar tidak kedinginan.

Gadis itu terdiam, kemudian menangis....


Bersambung ....














Jumat, 10 September 2021

Tragedi Dungus Dao : Bayangan Hitam

Tragedi Dungus Dao Bagian 2 
 Bayangan Hitam

Mentari tak lagi berseri. Isin, Edi, Atam dan Erik menunggu hasil pemeriksaan bidan. 

Saat pintu klinik terbuka, sontak semua bertanya " Gimana keadaan gadis itu Bu?..."  " Tenang dia baik-baik saja kok, hanya perlu istirahat, dan sepertinya dia kelelahan". Jelas bu Bidan.

Mendengar penjelasan bidan Isin, Edi, Atam dan Erik spontan bersama-sama mengucapkan hamdallah.

Alhamdulillah...

"Bolehkah kami melihatnya bu?" Isin bertanya dengan wajah yang sumringah . "Silahkan saja saat ini dia sedang tertidur". Mendengar jawaban bu Bidan semuanya tampak senang dan berharap gadis itu segera pulih. 

"Biar aku aja yang masuk ya kawan-kawan kasihan dia lagi tidur khawatir mengganggu." Isin meminta yang lainnya menunggu. Isin masuk kedalam klinik, terlihat sang gadis yang sedang tertidur pulas. Sesaat isin menatapnya, dalam hatinya isin bergumam. " Kasihan amat kamu dek harus mengalami kondisi seperti ini...." 

Tak lama Isinpun keluar dari klinik dan menjelaskan kondisi si gadis kepada Edi, Atam dan Erik. Isin mengusulkan kalau sebaiknya gadis itu dipulangkan. Melihat kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk bisa melanjutkan ke perkemahan. Semua sepakat setelah bangun gadis tersebut akan diantarkan kerumahnya. 

Tiba-tiba terdengar suara lirih dari dalam klinik " Tidak.... please kak jangan dipulangkan..." sang gadis keluar dari klinik dan memohon agar bisa melanjutkan ke perkemahan. Baginya acara pelantikan malam ini sangat penting. 

" Tidak dek... sebaiknya ade pulang aja, terlalu beresiko kalau tetap keperkemahan. Kita akan antar sampai rumah kok." Jawab Edi dengan tegas.

"Enggak kak... saya gak mau pulang... saya mau ke perkemahan.... Saya kuat kok... please..." dengan nada lirih si gadis memohon untuk tetap melanjutkan ke perkemahan. 

Karena memaksa Isin, Edi, Atam dan Erik akhirnya sepakat mengijinkan si gadis melanjutkan kegiatan. Setelah berpamitan pada bu bidan, mereka bersiap melanjutkan perjalanan ke perkemahan. 

Baru berjalan kurang lebih 500 m gadis itupun terjatuh dan pingsan lagi. "Ya Allah... cape deeh..."  sahut Atam sambil tepok jidat. Sementara Erik terlihat menggerutu "Dibilangin juga apa... maksain siih..."

Melihat seperti itu Edi nampak bingung dan sedikit kesal. "Sin gimana nih...? " 

"Teman-teman... bantu saya angkat gadis ini ketandu kasian dia pingsan di tanah."  Isin meminta Edi, Atam dan Erik memindahkan si gadis sambil menyiapkan tandu. 

Setelah itu Isin mencoba menyadarkan gadis itu dengan memberikan aroma minyak kayu putih disekitar hidung si gadis. Tak lama diapun sadar tapi ekspresinya kali ini berbeda. Matanya melotot, bibirnya terlihat gemetar, jari-jari tangannya  kaku dan berusaha mencakar wajahnya sendiri. 

"Temen-teman tolong pegangin gadis ini. Rik pegang tangan kirinya, Tam dan Ed pegang kaki kanan dan kiri." Isin meminta bantuan Erik, Atam dan Edi sambil memegang tangan kanan si gadis. Sang gadis berontak dan berteriak. Sekuat tenaga Isin dan temannya memegangi si gadis agar tidak berontak dan mencakar- cakar wajahnya. 

Isin memijit urat nadi di tangan sang gadis. Sambil terpejam membacakan jampi-jampi dan berdoa. "Ya Allah apa yang terjadi dengan gadis ini...? Sudah berjam-jam Ia menderita... Sembuhkanlah Ia ya Allah..." Tiba-tiba merasakan panas ditangannya dan seperti ada energi listrik mengalir ke keseluruh tubuhnya . Sementara Erik, Atam dan Edi  terlihat kesakitan seperti tersengat arus listrik. " "Auuuuuwh.....!" Erik berterik dengan wajah yang memerah. Isin seketika membuka mata dan memerintahkan Erik, Edi dan Atam melepaskan pegangannya. Namun tangan Erik sepertinya susah untuk dilepaskan. "Tak...." Sepontan Isin menangkis tangan Erik agar terlepas dari tangan si Gadis. 

Tinggal lah Isin yang masih memegang tangan si gadis. Hatinya terus berdoa dan membaca jampi-jampi. sementara lainnya seolah terperanjat dan hanya mampu menatap.

Isin merasakan getaran strum yang sangat kuat ditangananya. Tiba-tiba Ia melihat sosok bayangan hitam keluar dari tubuh sang gadis bergerak ke arah belakangnya.  lalu Ia merasakan ada yang mencekik dari belakang. Isin terus berusaha membebaskan diri dari cekikan dan berucap. "Ya Allah... ya Allah..."

Tiba-tiba sang gadis sadar dan mengusap wajahnya sambil berucap," alhamdulillah...". Gadis itu membelakangi Isin yang saat itu sedang berusaha membebaskan diri dari cekikan. Begitu membalikkan  badannya Ia melihat Isin yang sedang dicekik bayangan hitam.

" Astagfirullah hal adzim... Kakak...!" si gadis berteriak kaget dan langsung memegang kepala Isin dan membacakan jampi di ubun-ubunnya. Seketika bayangan hitam itu melepaskan cekikannya dan masuk kembali ketubuh si gadis. Sang Gadis akhirnya kembali tak sadarkan diri. 


---Bersambung---