pemandangan

pemandangan
Isin.doank@gmail.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Tak Pernah Kubayangkan, Sejauh Ini Aku Melangkah

 Tak pernah kubayangkan perjalanan pengabdianku akan sampai sejauh ini. Awalnya aku hanya ingin menjalani peran ku sebagai seorang guru dengan sebaik-baiknya. Medampingi murid belajar, bertumbuh bersama mereka, dan terus memperbaiki diri. Namun daam perjalanan, aku mulai menyadari bahwa kesempatan untuk memberi dampak bagi pendidikan datang dari arah yang tak pernah kuduga sebelumnya.

Keinginan ku menjadi bagian dari transformasi dan memberi dampak yag lebih luas telah membawaku megikuti seleksi Pengajar Praktik (PP) pada program Guru Penggerak. Saat itu, aku melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk belajar sekaligus berbagi pengalaman dengan guru lain. Aku tidak tahu sejauh apa perjalanan ini akan membawaku. Yang kupikirkan hanyalah mencoba, mempersiapkan diri, dan menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh.

Salah satu pengalaman yang masih kuingat terjadi ketika mengikuti wawancara seleksi Pengajar Praktik secara daring. Sebelum wawancara dimulai, aku sudah menyampaikan kepada para asesor bahwa aku tinggal di daerah perbukitan dengan sinyal yang kadang naik turun. Aku bahkan berpesan, kurang lebih, “Seandainya saya terlempar, mohon ditunggu, ya. Di sini daerah perbukitan, sinyalnya naik turun.”

Benar saja, di tengah wawancara, tiba-tiba listrik padam. Koneksi internet pun terputus dan aku terempar dari ruang wawancara. Dalam situasi seperti itu, tentu muncul kekhawatiran bahwa proses wawancara akan terhenti. Namun, para asesor berkenan menunggu. Setelah terhubung kembali, aku masuk lagi ke ruang wawancara dan melanjutkan proses yang sempat terputus. Walaupun wawancara berlangsung lebih lama, tetapi akhirnya dapat diteruskan.

Dari peristiwa itu aku belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai recana. Kadang ada hal yang berada diluar kedali, dan yang bisa kulakukan adalah mempersiapkan diri, menyampaikan kendala dengan jujur dan berusaha maksimal ketika kesempatan kembali terbuka. Kebaikan para asesor yang berkenan menunggu juga mengingatkanku bahwa di balik proses seleksi yang formal, selalu ada ruang untuk saling memahami.

Setelah menjaani seluruh proses seleksi dan dinyatakan lulus, aku menjalani tugas sebagai Pengajar Praktik, mendampingi Calon Guru Penggerak (CGP). Peran ini memberiku kesempatan untuk melihat lebih dekat perjuangan para guru yang sedang belajar, bertumbuhdan memperbaiki praktik pembelajaran. Aku datang bukan sebagai orang yang paling tahu, melainkan sebagai rekan belajar yang mendampingi, mengajukan pertanyaan, dan membantu mereka merefleksikan prosesnya.

Ada pula perjalanan menuju CGP lain, saat itu hujan telah membuat jalan menjadi icin. Diturunan yang sangat curam, motorku tergelincir dan membentur tebing di tepi jurang. Aku selamat, namun kejadian itu memberiku peajaran bahwa. Setiap perjalanan mengajarkan untuk lebih waspada, mengenali keterbatasan, dan memahami bahwa membantu orang lain tidak berarti mengabaikan risiko.

Seiring waktu, aku terus belajar dan mengembangkan kompetensi. Kesempatan berikutnya datang ketika dibuka pendaftaran calon fasilitator Guru Penggerak. Aku mengikuti seluruh proses seleksi, dan dinyatakan lulus. aku dipercaya menjalankan peran sebagai Fasilitator Guru Penggerak. Tanggung jawab ini berbeda dari Pengajar Praktik, tetapi semangat dasarnya tetap sama: mendampingi proses belajar, membuka ruang refleksi, dan membantu CGP membangun pemahaman bersama. Semua itu kulakukan sambil tetap menjalankan tugasku sebagai guru

Menjalakan beberapa peran sekaligus bukan hal yang selalu mudah. Aku harus mengatur waktu, menjaga komitmen, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang datang silih berganti. Masih teringat sebuah peristiwa saat memfasilitasidan memandu diskusi di sesi ruang kolaborasi melaui Google Meet, tiba-tiba mendapat kabar bahwa anakku pulang lebih awal dan harus segera dijemput.

Saat itu, dua tanggung jawab hadir bersamaan: tugas profesional yang sedang berlangsung dan tanggung jawab sebagai orang tua. Aku berusaha mengatur keadaan sebaik mungkin. Dalam perjalanan menjemput anak, aku tetap terhubung dengan sesi daring walau sempat berhenti di beberapa titik untuk memfasilitasi diskusi. Situasi itu jauh dari kata ideal, tetapi menjadi pengingat nyata tentang tantangan membagi perhatian antara pekerjaan dan keluarga.

Dari pengalaman tersebut aku belajar bahwa mejalankan amanah bukan berarti harus selalu mampu melakukannya dengan sempurna. Ada kalanya kita perlu mengatur ulang prioritas, mencari cara yang ebih baik, dan mengakui bahwa peran sebagai pendidik tidak menghapus peran kita di rumah. Profesionalisme bukan berarti terus bekerja dalam keadaan apa pun, melainkan juga berusaha mengambil keputusan yang bertanggung jawab bagi semua pihak yang membutuhkan kita.

Perjalananku kemudian berlanjut ke peran sebagai Instruktur Guru Penggerak. Aku bersyukur mendapat kesempatan untuk terus berkontribusi dalam ruang pengembangan guru. Ada satu hal yang membuatku merasa tertantang: di antara para instruktur, aku merupakan satu-satunya yang masih bertugas sebagai guru. Instruktur lainnya berasal dari latar belakang pengawas sekolah, dosen, dan praktisi.

Perbedaan latar belakang itu membuatku sedikit merenung.. Namun, berada di ruang tersebut membuatku tertantang untuk membuktikan bahwa seorang guru yang masih mengajar di sekolah juga mampu mengambil bagian dalam pengembangan kompetensi guru pada lingkup yang lebih luas..

Di tahun ke dua mejalankan tugas sebagai fasilitator, aku juga menjalani proses CGP rekognisi. Sampai akhirnya dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat Guru Penggerak. Bagiku, sertifikat bukan sekadar dokumen atau tanda telah menyelesaikan program. Akantetapi Sertifikat tersebut menjadi pengingat atas proses belajar, usaha mengembangkan kompetensi, dan komitmen untuk terus bertumbuh sebagai pendidik.

Aku tidak menyangka bahwa sertifikat itu akan membawaku pada kesempatan berikutnya: mengikuti seleksi pengawas sekolah. Sekali lagi, aku memasuki proses baru tanpa mengetahui pasti ke mana langkah tersebut akan membawaku. Aku hanya berusaha menjalani setiap tahap dengan sebaik-baiknya. Ketika akhirnya mendapat amanah sebagai pengawas sekolah, perjalanan pengabdianku memasuki babak yang sama sekali berbeda dari yang pernah kubayangkan.

Kini dua tahun sudah kujalani tugas ku sebagai seorang pengawas sekolah. Perubahan peran ini membuat ruang tanggung jawabku semakin luas. Jika dahulu sebagian besar perhatianku tertuju pada murid dan pembelajaran di kelas, kini aku juga mendampingi sekolah dan guru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Meski bentuk tugasnya berubah, aku ingin tetap membawa semangat yang sama: belajar, mendengarkan, merefleksikan, dan mencari cara agar kehadiranku memberi manfaat.

Ketika menengok kembali perjalanan ini, aku melihat bahwa setiap tahap saling terhubung. Pengalaman sebagai guru menjadi bekal ketika mendampingi CGP. Peran sebagai Pengajar Praktik membuka ruang untuk memahami proses perubahan dari dekat. Pengalaman sebagai Fasilitator dan Instruktur memperluas kesempatan untuk berbagi dan belajar bersama para pendidik. Proses CGP Rekognisi menguatkan perjalanan pengembangan diri, sedangkan sertifikat Guru Penggerak menjadi salah satu pintu menuju seleksi pengawas sekolah.

Namun, aku tidak ingin mengukur perjalanan ini hanya dari perubahan peran atau jabatan. Yang lebih penting adalah pelajaran yang dibawa setiap tahap: berani mencoba meski hasilnya belum pasti, bertahan tanpa mengabaikan keselamatan, menjaga tanggung jawab profesional sekaligus keluarga, serta tetap rendah hati ketika berada di lingkungan yang lebih luas. Tidak semua proses berlangsung mulus. Ada koneksi yang terputus, perjalanan yang penuh risiko, waktu yang harus dibagi, dan tantangan yang membuatku mempertanyakan kemampuan sendiri. Semua itu menjadi bagian dari cerita yang membentuk diriku hari ini.

Aku tidak pernah menyangka perjalananku akan sampai di sini. Dulu, aku hanya ingin menjadi guru yang terus belajar dan memberi dampak lebih luas bagi pendidikan. Kini, aku menjalani amanah sebagai pengawas sekolah, setelah melewati berbagai kesempatan dan proses yang tidak pernah kurancang sepenuhnya sejak awal. Aku belajar bahwa kita tidak harus mengetahui seluruh peta perjalanan sebelum berani mengambil langkah pertama. Kadang-kadang, yang diperlukan adalah kesediaan untuk mencoba, kesungguhan untuk belajar, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Perjalanan ini tentu belum selesai. Jabatan dapat berubah, tanggung jawab dapat bertambah, dan tantangan baru akan selalu datang. Aku ingin terus mengingat bahwa apa pun peran yang kujalani, identitasku sebagai pendidik harus tetap berakar pada semangat untuk melayani dan belajar. Sebab, keberhasilan bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan sepanjang perjalanan.

Jika ada satu hal yang ingin kubagikan melalui cerita ini, barangkali inilah: jangan buru-buru membatasi diri pada apa yang kita bayangkan hari ini. Teruslah belajar, ambillah kesempatan yang selaras dengan nilai pengabdian, dan jalani setiap proses dengan sungguh-sungguh. Kita tidak selalu bisa menebak ke mana langkah itu akan membawa kita. Aku sendiri menjadi saksi bahwa perjalanan seorang guru dapat berkembang jauh melampaui bayangan awalnya.

Dan ketika suatu hari aku kembali menoleh ke belakang, aku ingin tetap dapat berkata dengan penuh syukur: aku tidak pernah membayangkan akan sampai sejauh ini.

"Jika kamu menyukai kisah nyata ini, kamu bisa memberikan dukungan seikhlasnya melalui QR DANA yang ada di samping halaman ini (atau di bagian bawah bagi pengguna HP). Terima kasih!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar