Tak pernah kubayangkan perjalanan pengabdianku akan sampai sejauh ini. Awalnya aku hanya ingin menjalani peran ku sebagai seorang guru dengan sebaik-baiknya. Medampingi murid belajar, bertumbuh bersama mereka, dan terus memperbaiki diri. Namun daam perjalanan, aku mulai menyadari bahwa kesempatan untuk memberi dampak bagi pendidikan datang dari arah yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Keinginan
ku menjadi bagian dari transformasi dan memberi dampak yag lebih luas telah
membawaku megikuti seleksi Pengajar Praktik (PP) pada program Guru Penggerak. Saat
itu, aku melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk belajar sekaligus
berbagi pengalaman dengan guru lain. Aku tidak
tahu sejauh apa perjalanan ini akan membawaku. Yang kupikirkan hanyalah
mencoba, mempersiapkan diri, dan menjalani setiap proses dengan
sungguh-sungguh.
Salah
satu pengalaman yang masih kuingat terjadi ketika mengikuti wawancara seleksi
Pengajar Praktik secara daring. Sebelum wawancara dimulai, aku sudah
menyampaikan kepada para asesor bahwa aku tinggal di daerah perbukitan dengan
sinyal yang kadang naik turun. Aku bahkan berpesan, kurang lebih, “Seandainya
saya terlempar, mohon ditunggu, ya. Di sini daerah perbukitan, sinyalnya naik
turun.”
Benar
saja, di tengah wawancara, tiba-tiba listrik padam. Koneksi internet pun
terputus dan aku terempar dari ruang wawancara. Dalam situasi seperti itu,
tentu muncul kekhawatiran bahwa proses wawancara akan terhenti. Namun, para
asesor berkenan menunggu. Setelah terhubung kembali, aku masuk lagi ke ruang
wawancara dan melanjutkan proses yang sempat terputus. Walaupun wawancara
berlangsung lebih lama, tetapi akhirnya dapat diteruskan.
Dari
peristiwa itu aku belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai recana. Kadang
ada hal yang berada diluar kedali, dan yang bisa kulakukan adalah mempersiapkan
diri, menyampaikan kendala dengan jujur dan berusaha maksimal ketika kesempatan
kembali terbuka. Kebaikan para asesor yang berkenan menunggu juga
mengingatkanku bahwa di balik proses seleksi yang formal, selalu ada ruang
untuk saling memahami.
Setelah
menjaani seluruh proses seleksi dan dinyatakan lulus, aku menjalani tugas
sebagai Pengajar Praktik, mendampingi Calon Guru Penggerak (CGP). Peran ini
memberiku kesempatan untuk melihat lebih dekat perjuangan para guru yang sedang
belajar, bertumbuhdan memperbaiki praktik pembelajaran. Aku datang bukan
sebagai orang yang paling tahu, melainkan sebagai rekan belajar yang
mendampingi, mengajukan pertanyaan, dan membantu mereka merefleksikan
prosesnya.
Ada
pula perjalanan menuju CGP lain, saat itu hujan telah membuat jalan menjadi
icin. Diturunan yang sangat curam, motorku tergelincir dan membentur tebing di
tepi jurang. Aku selamat, namun kejadian itu memberiku peajaran bahwa. Setiap
perjalanan mengajarkan untuk lebih waspada, mengenali keterbatasan, dan
memahami bahwa membantu orang lain tidak berarti mengabaikan risiko.
Seiring
waktu, aku terus belajar dan mengembangkan kompetensi. Kesempatan berikutnya
datang ketika dibuka pendaftaran calon fasilitator Guru Penggerak. Aku
mengikuti seluruh proses seleksi, dan dinyatakan lulus. aku dipercaya
menjalankan peran sebagai Fasilitator Guru Penggerak. Tanggung jawab ini
berbeda dari Pengajar Praktik, tetapi semangat dasarnya tetap sama: mendampingi
proses belajar, membuka ruang refleksi, dan membantu CGP membangun pemahaman
bersama. Semua itu kulakukan sambil tetap menjalankan tugasku sebagai guru
Menjalakan
beberapa peran sekaligus bukan hal yang selalu mudah. Aku harus mengatur waktu,
menjaga komitmen, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang datang silih
berganti. Masih teringat sebuah peristiwa saat memfasilitasidan memandu diskusi
di sesi ruang kolaborasi melaui Google Meet, tiba-tiba mendapat kabar bahwa
anakku pulang lebih awal dan harus segera dijemput.
Saat
itu, dua tanggung jawab hadir bersamaan: tugas profesional yang sedang
berlangsung dan tanggung jawab sebagai orang tua. Aku berusaha mengatur keadaan
sebaik mungkin. Dalam perjalanan menjemput anak, aku tetap terhubung dengan
sesi daring walau sempat berhenti di beberapa titik untuk memfasilitasi
diskusi. Situasi itu jauh dari kata ideal, tetapi menjadi pengingat nyata
tentang tantangan membagi perhatian antara pekerjaan dan keluarga.
Dari
pengalaman tersebut aku belajar bahwa mejalankan amanah bukan berarti harus
selalu mampu melakukannya dengan sempurna. Ada kalanya kita perlu mengatur
ulang prioritas, mencari cara yang ebih baik, dan mengakui bahwa peran sebagai
pendidik tidak menghapus peran kita di rumah. Profesionalisme bukan berarti
terus bekerja dalam keadaan apa pun, melainkan juga berusaha mengambil
keputusan yang bertanggung jawab bagi semua pihak yang membutuhkan kita.
Perjalananku
kemudian berlanjut ke peran sebagai Instruktur Guru Penggerak. Aku bersyukur
mendapat kesempatan untuk terus berkontribusi dalam ruang pengembangan guru.
Ada satu hal yang membuatku merasa tertantang: di antara para instruktur, aku
merupakan satu-satunya yang masih bertugas sebagai guru. Instruktur lainnya
berasal dari latar belakang pengawas sekolah, dosen, dan praktisi.
Perbedaan
latar belakang itu membuatku sedikit merenung.. Namun, berada di ruang tersebut
membuatku tertantang untuk membuktikan bahwa seorang guru yang masih mengajar
di sekolah juga mampu mengambil bagian dalam pengembangan kompetensi guru pada
lingkup yang lebih luas..
Di
tahun ke dua mejalankan tugas sebagai fasilitator, aku juga menjalani proses
CGP rekognisi. Sampai akhirnya dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat Guru
Penggerak. Bagiku, sertifikat bukan sekadar dokumen atau tanda telah
menyelesaikan program. Akantetapi Sertifikat tersebut menjadi pengingat atas
proses belajar, usaha mengembangkan kompetensi, dan komitmen untuk terus
bertumbuh sebagai pendidik.
Aku
tidak menyangka bahwa sertifikat itu akan membawaku pada kesempatan berikutnya:
mengikuti seleksi pengawas sekolah. Sekali lagi, aku memasuki proses baru tanpa
mengetahui pasti ke mana langkah tersebut akan membawaku. Aku hanya berusaha
menjalani setiap tahap dengan sebaik-baiknya. Ketika akhirnya mendapat amanah
sebagai pengawas sekolah, perjalanan pengabdianku memasuki babak yang sama
sekali berbeda dari yang pernah kubayangkan.
Kini
dua tahun sudah kujalani tugas ku sebagai seorang pengawas sekolah. Perubahan
peran ini membuat ruang tanggung jawabku semakin luas. Jika dahulu sebagian
besar perhatianku tertuju pada murid dan pembelajaran di kelas, kini aku juga
mendampingi sekolah dan guru dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Meski bentuk tugasnya berubah, aku ingin tetap membawa semangat yang sama:
belajar, mendengarkan, merefleksikan, dan mencari cara agar kehadiranku memberi
manfaat.
Ketika
menengok kembali perjalanan ini, aku melihat bahwa setiap tahap saling
terhubung. Pengalaman sebagai guru menjadi bekal ketika mendampingi CGP. Peran
sebagai Pengajar Praktik membuka ruang untuk memahami proses perubahan dari
dekat. Pengalaman sebagai Fasilitator dan Instruktur memperluas kesempatan
untuk berbagi dan belajar bersama para pendidik. Proses CGP Rekognisi
menguatkan perjalanan pengembangan diri, sedangkan sertifikat Guru Penggerak
menjadi salah satu pintu menuju seleksi pengawas sekolah.
Namun,
aku tidak ingin mengukur perjalanan ini hanya dari perubahan peran atau
jabatan. Yang lebih penting adalah pelajaran yang dibawa setiap tahap: berani
mencoba meski hasilnya belum pasti, bertahan tanpa mengabaikan keselamatan,
menjaga tanggung jawab profesional sekaligus keluarga, serta tetap rendah hati
ketika berada di lingkungan yang lebih luas. Tidak semua proses berlangsung
mulus. Ada koneksi yang terputus, perjalanan yang penuh risiko, waktu yang
harus dibagi, dan tantangan yang membuatku mempertanyakan kemampuan sendiri.
Semua itu menjadi bagian dari cerita yang membentuk diriku hari ini.
Aku
tidak pernah menyangka perjalananku akan sampai di sini. Dulu, aku hanya ingin
menjadi guru yang terus belajar dan memberi dampak lebih luas bagi pendidikan.
Kini, aku menjalani amanah sebagai pengawas sekolah, setelah melewati berbagai
kesempatan dan proses yang tidak pernah kurancang sepenuhnya sejak awal. Aku
belajar bahwa kita tidak harus mengetahui seluruh peta perjalanan sebelum
berani mengambil langkah pertama. Kadang-kadang, yang diperlukan adalah
kesediaan untuk mencoba, kesungguhan untuk belajar, dan keberanian untuk terus
memperbaiki diri.
Perjalanan
ini tentu belum selesai. Jabatan dapat berubah, tanggung jawab dapat bertambah,
dan tantangan baru akan selalu datang. Aku ingin terus mengingat bahwa apa pun
peran yang kujalani, identitasku sebagai pendidik harus tetap berakar pada
semangat untuk melayani dan belajar. Sebab, keberhasilan bukan semata-mata
tentang seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan tentang seberapa besar
manfaat yang bisa dibagikan sepanjang perjalanan.
Jika
ada satu hal yang ingin kubagikan melalui cerita ini, barangkali inilah: jangan
buru-buru membatasi diri pada apa yang kita bayangkan hari ini. Teruslah
belajar, ambillah kesempatan yang selaras dengan nilai pengabdian, dan jalani
setiap proses dengan sungguh-sungguh. Kita tidak selalu bisa menebak ke mana
langkah itu akan membawa kita. Aku sendiri menjadi saksi bahwa perjalanan
seorang guru dapat berkembang jauh melampaui bayangan awalnya.
Dan
ketika suatu hari aku kembali menoleh ke belakang, aku ingin tetap dapat
berkata dengan penuh syukur: aku tidak pernah membayangkan akan sampai sejauh
ini.
"Jika kamu menyukai kisah nyata ini, kamu bisa memberikan dukungan seikhlasnya melalui QR DANA yang ada di samping halaman ini (atau di bagian bawah bagi pengguna HP). Terima kasih!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar